Bagaimana jika....?

/ Saturday, 12 January 2019 /
Aku menunduk. Menyesal. Merasa tak berguna.
Bagaimana jika saat itu kusampaikan saja padanya selagi Aku bisa...?
Bagaimana jika saat itu Aku tak meninggalkannya?

Pertanyaan-pertanyaan retorika mulai memenuhi kepalaku. Tak ku acuhkan bulir-bulir keringat dan matahari yang menyengat. Aku tak peduli lagi pada apapun. Sudah sewajarnya Aku menyesal. Kehilangan tanpa pernah memiliki adalah hal yang paling menyakitkan.

Dasar pengecut! Teriakku pada diriku sendiri. 
Mengapa kau meninggalkannya disaat Ia membutuhkanmu? Demi segala ego dan gengsi yang membuat rasamu mati. Bahkan air mataku tak dapat mengalir lagi.

Aku hanya menunduk.
Bagaimana jika waktu itu Aku memilih memperjuangkan perasaan ini...?
Bagaimana jika kita pernah bersama...?
Bagaimana jika.............ah sudahlah.

12 Januari,
Ia pergi tanpa pernah sempat kumiliki.
Tertidur untuk selamanya dalam sebuah peti dari kayu jati.



sebuah kisah fiksi hasil imajinasi,

note:
Ini adalah tulisan fiksi di hari ke-duabelas dalam program 30 Hari Bercerita tahun ini dengan tema "Bagaimana Jika". Hari yang sangat mandek untuk kepala, karena Aku tidak dapat berpikir ingin menulis tentang apa. Syukurnya, tulisanku di repost oleh instagram 30 Hari Becerita! Terima kasih, sungguh sebuah semangat baru bagi komitmenku yang hampir luruh.


New York.

/ Monday, 31 December 2018 /
"Rasanya seperti sedang di New York," katamu, 
menghembuskan asap dari hisapan kretek coklatmu sembari memandangi lampu kota.

"Itulah lucunya, kota ini justru 'hidup' di malam hari. Kalau siang, malah nampak mati,"
jawabku. 

"Lucu ya, malam jadi terang, meski dirundung hujan," katamu, lagi.

"Seperti sebuah sulap, bukan? Meski kota ini masih tak bisa kupercaya seutuhnya," 

Lalu kau memandangku yang sejak tadi sudah menikmati pemandangan kunang-kunang dari atap paling tinggi yang bisa kita gapai malam ini. Lagi-lagi pandangan itu. Sejak sore tadi kau memandangiku dengan sendu. Teduh, namun menyimpan banyak keluh. Namun aku tak ingin banyak bertanya, hingga kau mengizinkan aku untuk bercerita bersama sebatang dunhill hitam yang telah merebak asapnya. 

"Terima kasih sudah datang kesini," kataku,
menyeruput kopi Mandheling yang telah kau racik untukku sebelum kita memulai obrolan ini.

"Terima kasih sudah menyambutku," 

Kau memandangiku lagi. Sial, kenapa aku jadi grogi?!

"Sayang, selamat akhir bulan,"

Kau bisikkan kalimat manis itu diantara peluh kita yang telah menjadi satu.
Ditengah belantara besi yang berlomba memercik kembang api malam ini, aku mengecupmu. 

"Aku sayang, tolong jangan menghilang,"

kartu pos dari New York, dikirim oleh :

tulisan malam minggu.

/ Saturday, 15 December 2018 /
malam minggu.
jadi teringat dulu, aku dan kekasih hampir tidak pernah menghabiskan "malam minggu". selain ramai dan lalu lintas yang padat, seluruh tempat penuh sesak meski dengan tarif melonjak. lagipula, dulu kami pikir untuk apa pacaran di malam minggu? kami punya senin sampai jumat untuk kencan, tak perlu menunggu hingga akhir pekan.

sampai tiba saatnya kami terbentur realita. jarak dan waktu punya definisi baru, namanya melipat rindu. aku rindu, kau dan kita di Bandung sana. sudah terhitung empat bulan kita tidak menghabiskan senin sampai jumat bersama. aku dengan tulisan-tulisanku, kau dengan bisnis dan teman-temanmu. meski setidaknya kita masih bisa bersama, melalui jaringan udara. juga mesin waktu yang menelusuri 125 kilometer yang membentang diantara kita.

sialnya, aku malah semakin rindu!
belakangan, bersamamu waktu jadi terasa cepat berlalu. tapi kau bilang, dari dulu memang seperti itu. mungkin memang terlalu menyenangkan, atau selalu? entahlah, hanya saja aku sedang rindu.


dari aku, 
yang sedang meresapi rindu di balkon kamarku,

R E A C H M E :

Image and video hosting by TinyPic  Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic

A R C H I V E

 
Copyright © 2010 ムーン, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger